www.bininfor.com

Bintang Informasi Rakyat

Mulut (Politisi) Mestinya Jaga Badan

Mulut (Politisi) Mestinya Jaga Badan

Bininfor.com – Harusnya memang begitu: “mulut jaga badan”. Atau lebih sarkas lagi, “pajang lidah tidak boleh lebih dari dasi”. Sebab mulut yang terlampau beretorika kadang tak lagi logis. Eksesnya adalah membicarakan kehidupan pribadi orang lain atau adhomiem.

Dalam hal berbicara, ada tiga jenis tipikal manusia menurut Eleanor Roosevelt: orang kecil berbicara tentang orang lain; orang biasa berbicara tentang kejadian sekitar; dan orang besar berbicara tentang ide.

Dari tiga tipikal manusia itu, adalah anomali bila publik mendapati seorang politisi membicarakan urusan privat orang lain atau menilai kehidupan pribadi orang lain. Konyolnya lagi, biar hasrat kuasanya tersalurkan, ia membicarakan urusan privat orang lain dalam konsteks publik.

Publik pasti pernah mendengar atau membaca ada politisi kita yang suka membicarakan urusan privat politisi lain: gelar, tubuh, rambut, suku, ras, dan lain-lain. Sebagai misal, untuk mendapatkan perhatian publik, seorang politisi mengejek gelar pendidikan politisi lain dan dianggap tidak bermanfaat dalam sebuah kebijakan publik.

Dalam pembicaraan ad hominem seperti itu, secara semiotik, politisi itu sedang melakukan “empty gesture”: sebuah gerakan kosong yang sebenarnya ia tidak sedang memberikan input esensial pada sebuah kebijakan yang sedang diperdebatkan. Yang terbaca adalah tabiat dan pikiran dangkal politisi. Dalilnya, urusan publik tidak equal dengan urusan privat. Pembenaran klaim politik tidak etis dilakukan dengan mengutak-atik urusan privat politisi lain.

Politisi yang terjebak “empty gesture” itu biasanya adalah politisi ompong. Politisi ompong itu tidak lagi punya kuasa. Taring-taring pengaruhnya sudah “dull”. Oleh karena itu, “Machiavellian way” digunakan untuk meraih kembali taring pengaruh yang dull tersebut. Salah satu caranya adalah dengan mempermainkan sisi emosional publik yang cenderung cepat terpengaruh pada ihwal privat lawan politik.

Politisi memang harus pandai beretorika. Itu basic skillseorang politisi. Tetapi kemampuan beretorika itu seharusnya diarahkan pada argumentasi kritis atau afirmatif pada kebijakan-kebijakan publik. Kalau ada kebijakan publik yang dianggap keliru, maka politisi berhak bersuara atau berargumentasi. Dasarnya, membela kepentingan banyak orang.

Adalah celaka kalau argumentasi politik diganti dengan gossip gelar pendidikan, misalnya, pada politisi lain. Gossip seperti itu sejatinya merendahkan dirinya sendiri. Kadang kala retorika itu bisa berdampak negatif pada dirinya sendiri.

Persis itulah ungkapan mulut tidak jaga badan. Dimaksudkan tunjuk orang lain, tetapi empat jari lain kembali menunjuk dirinya sendiri. Memalukan memang. Bagi politisi yang tidak punya sarat dan rasa malu, apa pun cara dilakukan biar “laos politik” (nafsu kekuasaannya tersalurkan).

Contoh lain biar “laos politik” adalah seorang politisi berjanji mendukung seseorang yang hendak maju dalam kontestasi Pileg (Pemilu Legislatif). Di berbagai tempat ia “mengkampanyekan” politisi itu. Tetapi pada saat Pileg tiba, justru politisi yang berjanji itu ikut berkontestasi dan bersumpah untuk mengalahkan politisi lain yang ia janjikan dukungan. Menyedihkan memang!

Itulah borok dalam politik. Kadang dunia politik itu bisa melahirkan politisi yang “lidahnya bercabang” (lemadangka, kata orang Manggarai. Politisi dangka lema ini ada karena banalitas: ia sudah terbiasa ingkar janji. Jadi, semua yang tampak hebat dalam dirinya ternyata semuanya itu muslihat atau pencitraan. Termasuk didalamnya adalah soal janji.

Mungkin betul petuah lama, “manisnya madu jangan cepat ditelan; pahitnya empedu jangan cepat dibuang”. Manisnya janji politisi jangan cepat ditelan. Karena, “madu” itu bersyarat kepentingan, rasanya bisa cepat berubah. Ada pemeo “dalam politik tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanya selain kepentingan yang abadi”.

Jadi “act of speech” itu tidak berlaku bagi politisi (dangka lema).Sebab, gerak bibir dan tindakan mereka (sering) bertolak belakang. Lain di bibir, lain di tindakan. Gerakannya tidak sinkron, tidak konsisten.

Karena inkonsistensi itu, mulut politisi sering melukai orang lain, atau bahkan mulutnya “menelan” dirinya sendiri”. Tampak tak tersadari, tetapi itu terjadi. Mulutmu, harimaumu.

Kebohongan dari mulut politisi itu tidak akan bertahan lama. “You can fool some of people all the time, and all of the people some of the time, but you can not fool all the people all of the time”. Itu pesan Abraham Lincoln kepada politisi.

Oleh karena itu, mulut mestinya jaga “badan”. Berpikir dan bijak mestinya melekat dalam karakter politisi. Berbicaralah secara bebas, tetapi tetap berpijak pada etika politik. Kalau pakai standar etika, urusan publik itu “yang politik” (le politique, istilah filsuf Claude Lefort), urusan pribadi itu gossip.

Kalau ingin jadi tukang gossip, copotlah semua “jubah politik” yang pernah dikenakan. Lalu, bergosiplah. Sekian.***
Alfred Tuname

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.

downloadfilmterbaru.xyz nomortogel.xyz aplikasitogel.xyz hasiltogel.xyz paitogel.xyz