www.bininfor.com

Bintang Informasi Rakyat

WADAH KADERISASI MAHASISWA MUSLIM ADALAH  KAMMI

WADAH KADERISASI MAHASISWA MUSLIM ADALAH  KAMMI

OKU,  Bininfor.com  — Setiap dari kita kadang bertanya-tanya, apa itu mahasiswa? Kenapa mahasiswa selalu menjadi super hero dalam setiap pembahasan perubahan? Apakah mahasiswa itu pahlawan kesiangan? Atau pahlawan jadi-jadian? Lalu, kenapa mahasiswa dituntut aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi?

Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang membuat kita masuk ke ranah filsafat, sehingga setidaknya ketika kita memikirkan itu, maka kita sedang berfilsafat. Mari kita coba berfilsafat sebentar untuk menjawab beberapa pertanyaan diatas.

Mahasiswa dalam berbagai kesempatan sudah sering dijelaskan bahwa terdiri dari dua kata, yaitu: maha dan siswa. Kata “maha” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kata yang memiliki bentuk terikat dan memiliki arti yaitu, besar; sangat, amat; dan teramat. Sedangkan kata “siswa” yang secara gamblang bisa kita pahami bahwa kata ini memiliki arti “peserta didik”. Maka bila kita sinkronkan kedua kata itu, “mahasiswa” memiliki arti peserta didik yang besar.

Kata “Besar” dimaksudkan kepada tingkatan pendidikan yang telah mencapai pada puncaknya, sebab untuk menjadi seorang mahasiswa, seseorang itu terlebih dahulu melalui proses belajar dari tingkat SD, SMP, hingga SMA yang dalam hitungan angka terdapat 12 tahun lamanya. Namun, ada pengecualian untuk seseorang yang mendapatkan perlakuan khusus seperti: peserta didik akselerasi.

Demikian daripada itu, dapat kita definisikan bahwa mahasiswa adalah peserta didik yang telah memiliki pengetahuan lebih banyak daripada siswa; peserta didik yang telah melewati tingkatan-tingkatan pendidikan; peserta didik yang telah melewati masa pendidikan dasar, menengah, dan atas selama 12 tahun; dan peserta didik yang telah mencapai puncak pendidikan yang selanjutnya biasa disebut akademisi.

Ada pula satu pendapat lain perihal definisi mahasiswa. Mahasiswa dalam pendapat ini diartikan melalui arti kata “maha” yang biasa ditujukan kepada Tuhan, sehingga memiliki arti Tuhannya peserta didik. Jelasnya penulis disini hanya ingin membuka cakrawala berpikir kita yang dalam tujuannya tidak ada maksud menjatuhkan atau menyesatkan pikiran seseorang. Penulis disini hanya berusaha untuk objektif dalam melihat suatu perkara.

Kemudian, mahasiswa dengan segenap pengetahuannya yang melebihi tingkatan siswa dituntut untuk dapat berpikir kritis dalam melihat perkara apapun, sehingga bila terdapat kekeliruan yang terjadi dalam lingkungan hingga dalam tingkatan negara, mahasiswa selalu menyuarakan tuntutan-tuntutan perubahan untuk mengatasi kekeliruan yang terjadi. Hal ini bermuara dari kesadaran, kemudian dikuatkan dengan daya nalar berpikir mereka, sehingga ketika manusia merasa bahwa ada ancaman atau kesalahan, maka sudah selayaknya manusia dituntut untuk menyuarakan atau melakukan penindakan.

Setelah itu, mahasiswa seringkali dianggap sebagai pahlawan yang disebabkan oleh seringnya terjadi kekeliruan yang biasa dilakukan oleh elite politik, sehingga membuat mahasiswa bangkit untuk meneriakkan kebenaran. Kuantitas atau banyaknya gerakan mahasiswa sejalan dengan terjadinya kekeliruan yang diperbuat oleh elite politik.

Oleh karena mahasiswa memiliki segenap pengetahuan yang melibihi tingkatan siswa, dituntut untuk kritis dalam menyikapi persoalan, dan seringnya mahasiswa melakukan gerakan yang bermuara dari kekritisan tadi, maka mahasiswa juga dianggap sebagai generasi penerus estafet kepemimpinan. Hal itu menuntut mahasiswa untuk melatih jiwa kepemimpinan yang dimilikinya, karena jiwa kepemimpinan tidak serta-merta langsung tumbuh dan berkembang begitu saja dengan sendirinya.

Walaupun dengan segala hiruk-pikuk masalah kehidupan dilalui, perlulah mahasiswa dilatih kepemimpinannya. Layaknya pisau, semakin sering diasah maka semakin tajam pula daya potongnya.

Demikianlah mahasiswa dituntut aktif dalam organisasi, sehingga jiwa kepemimpinan yang dimilikinya dapat dilatih. Organisasi adalah tempat yang tepat untuk melatih jiwa kepemimpinan, karena organisasi dengan segala hiruk-pikuk masalah yang ada, membuat mahasiswa dapat bijak dalam menyikapi setiap permasalahan. Bijaksana adalah pilar utama yang harus dimiliki oleh mahasiswa.

Apalagi mahasiswa Islam, dalam beragama pun mereka dituntut untuk bijaksana dalam menyikapi setiap persoalan kehidupan, sehingga perlu dilatih kebijaksanaan tersebut.

Bukanlah seorang mahasiswa yang sesungguhnya, bila menjadi mahasiswa kuliah-pulang, kuliah-pulang atau biasa disingkat menjadi Kupu-Kupu, sebab tonggak peradaban berada dalam tangan mahasiswa.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) adalah tempat yang cocok bagi mahasiswa Islam untuk menempa diri, sebab didalamnya terdapat banyak sekali hal-hal yang bisa melatih diri mahasiswa. Seperti kegiatan Dauroh Marhalah yang di dalamnya dapat melatih jiwa kepemimpinan mahasiswa. Dauroh Marhalah terdapat tiga tingkatan yang semuanya dapat mahasiswa rasakan, bila mengikutinya. Hidup Mahasiswa !
Salam Muslim Negarawan
Sumber. beritakite.com

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.

downloadfilmterbaru.xyz nomortogel.xyz aplikasitogel.xyz hasiltogel.xyz paitogel.xyz