www.bininfor.com

Bintang Informasi Rakyat

Sepenggal Kisah Perjalanan Panjang Membebaskan Diri dari Belenggu Riba*  : Oleh : Abdul Kadir

Sepenggal Kisah Perjalanan Panjang Membebaskan Diri dari Belenggu Riba*  : Oleh : Abdul Kadir

Bininfor.com .. Hari ini tanggal 26 November 2019, alhamdulillaah atas izin Allah akhirnya Si-Abang menyetujui *Pembebasan BDO (Bunga, Denda, dan Ongkos Lainnya)

Tanpa Syarat* atas utang perusahaan saya dan memberikan kesempatan kepada saya untuk mencicil pokoknya saja serta menjual sendiri asset yang saya jadikan jaminan utang tersebut dalam waktu 2 (dua) tahun ke depan.

Utang perusahaan saya jenisnya KRK (Kredit Rekening Koran), bunga dibayarkan setiap bulan sedangkan utang pokoknya dikembalikan sekaligus pada akhir jatuh tempo (1 tahun).

Perjanjian Kredit ditandatangani pada tanggal 21 Februari 2017 dan saya cairkan seluruhnya Rp 650 juta. Ini adalah tahun ke-5, saya memperpanjang Perjanjian Kredit dengan Si-Abang. Dan memasuki bulan Oktober 2017 ternyata saya tak mampu lagi membayar bunga utang.

Dari bulan itu sampai dengan 22 November 2019, riba (BDO) yang masih mereka tagihkan mencapai Rp 330 juta-an. Subhanallaah…!!! Benar-benar *ngeRibanget*… Dalam 2 tahun nunggak, BDO-nya sudah mencapai 50% jumlah utang pokok.

Jika dihitung waktu yang saya lalui sejak mengikuti Workshop Platform Bisnis Tanpa Riba (PBTR) tanggal 23-25 November 2017 yang diselenggarakan oleh Masyarakat Tanpa Riba sampai dengan tanggal dikeluarkannya draft

*Putusan Penyelesaian Kredit Ritel* tanggal 22 November 2019 dari Si-Abang, maka genap sudah 2 (dua) tahun lamanya waktu yang saya butuhkan untuk membebaskan diri dari belenggu riba Si-Abang ini.

Dari beberapa sumber utang yang saya perjuangkan penghapusan riba-nya, utang dengan Si-Abang lah yang paling menyita waktu dan energi. Saya harus mengikuti proses peradilan yang cukup melelahkan untuk melawan upaya paksa yang dilakukan oleh Si-Abang, yang *memaksa saya melunasi sekaligus seluruh utang dan ribanya* sesuai waktu yang mereka tentukan melalui *Lelang Eksekusi Hak Tanggungan*.

Coba Antum bayangkan, apakah Antum akan tinggal diam ketika dipaksa berzinah dengan ibu kandung Antum sendiri??? Dengan berdiam diri (pasrah) ketika asset kita dilelang agar hasilnya dapat digunakan *untuk melunasi seluruh utang dan ribanya*, menurut pemahaman saya sama saja kita membiarkan diri untuk dipaksa berzinah dengan ibu kandung kita. Subhaanallaah….!!!

Inilah yang membuat saya terus berjuang tanpa henti, sampai Si-Abang benar-benar membebaskan saya dari riba tanpa syarat.

Dalam kondisi seperti ini, kita dituntut untuk bisa menjadi lawyer bagi diri kita sendiri… *become your own lawyer*. Ketika dakwah *(untuk membebaskan diri dari belenggu riba)* tidak lagi dapat dilakukan secara bersahabat kepada Si-Abang, maka “perang” adalah pilihan terburuk yang harus kita lakukan. “Berperang di Pengadilan”, itulah pilihan terburuknya…

Ternyata Allah menakdirkan saya kalah dalam Gugatan di Pengadilan Negeri Bandung, melalui Putusan Pengadilan tersebut pada tanggal 14 Februari 2019. Saya pun kemudian melayangkan Memori Banding pada tanggal 4 Maret 2019 ke Pengadil an Tinggi Bandung.

Pada tanggal 26 Oktober 2019 Pengadilan Tinggi Bandung memberikan surat pemberitahuan kepada saya bahwa Putusan Banding sudah keluar tanggal 25 September 2019 dan akan diberitahukan isinya oleh Pengadilan Negeri Bandung.

Karena penasaran, pada tanggal 28 Oktober 2019 saya langsung mendatangi PN Bandung untuk meminta isi putusan tersebut.

Saya agak terkejut karena isi putusannya ternyata menguatkan putusan Pengadilan Negeri.

Berarti Allah menakdirkan saya kalah juga dalam Upaya Banding di Pengadilan Tinggi. Putusan judex factie (Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi) menyatakan Gugatan saya Tidak Dapat Diterima (NO), artinya bahwa Pengadilan tidak dapat memeriksa, mengadili, dan memutus pokok perkara (tuntutan) yang saya ajukan karena syarat formilnya tidak terpenuhi.

Karena menurut saya Majelis Hakim di kedua tingkatan peradilan tersebut telah melakukan kesalahan dalam menerapkan hukum, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan Upaya Hukum Kasasi terhadap putusan tersebut ke Mahkamah Agung RI.

Pada tanggal 29 Oktober 2019 saya dihubungi melalui WA oleh Si-Abang menanyakan tentang salinan putusan Banding, yang pemberitahuannya juga sudah mereka terima dari Pengadilan Tinggi.

Saya baru menjawab pesan WA tersebut pada tanggal 31 Oktober 2019. Saya sampaikan kepada Si Abang bahwa Nanti dari PN akan ada relaas dan pemberitahuan untuk pengambilan salinan putusan, dan sampai hari ini saya belum menerima relaas dari PN.

Kemudian saya sampaikan kepada Si-Abang: “Menurut saya, sambil menunggu proses hukum…kenapa gak kita buat skedul untuk mencicil pokok? Misalnya setiap bulan saya cicil lk Rp 10 juta, tapi harus ngurangi pokok utang…bukan bayar bunga atau denda. Karena begini pak…kalau sampai kasasi nanti misalnya gugatan saya tetap di-NO atau DITOLAK, saya akan mengajukan gugatan baru ke PN. Jadi, akan panjang waktunya jika harus nunggu selesai proses hukum. Silakan dipikirkan deh… Mudah-mudahan dengan mulai mencicil (pokoknya saja)…rizki saya makin dibuka oleh Allah dan dilancarkan.”

Setelah pesan saya tersebut disampaikan oleh Si-Abang ke pimpinannya, mereka langsung merespon positif dengan mengatakan: “Alhamdulillaah barusan pimpinan cabang berubah pemikirannya kalau pak haji mau masuk 10 jt per bulan, paralel dengan proses penjualan aset yang sekarang sedang pak haji lakukan.”

Si-Abang kemudian berjanji akan membuat draft Surat Putusan Penyelesaiannya pada awal November 2019. Tetapi saya menolak menyetorkan uang Rp 10 juta sebagai cicilan pertama, yang mereka minta sebagai bukti keseriusan saya, dengan alasan bahwa saya harus tahu dulu isi putusannya, baru saya setor untuk memastikan bahwa BDO benar-benar dihapuskan tanpa syarat.

Meskipun sempat terjadi salah paham antara saya dengan Si-Abang, alhamdulillaah Si-Abang akhrinya mengajukan draft *Putusan Penyelesaian Kredit Ritel* tertanggal 22 November 2019 kepada saya pada tanggal 25 November 2019.

Dalam draft putusan tersebut, Si-Abang bersedia menghapuskan seluruh BDO sebesar Rp 330 juta-an. Tetapi sayang, dalam draft tersebut masih terdapat 2 (dua) klausul yang mengganjal di hati saya:

(1) Denda Penalty 50% dari bunga yang berlaku bila terjadi tunggakan Pokok maupun bunga;

(2) Apabila ybs tidak melaksanakan yang telah diperjanjikan sebagaimana tersebut di atas, maka putusan ini menjadi batal dan kewajiban debitur kembali seperti SPMK semula, dengan
mengesampingkan pasal 1266 KUH Perdata. Setoran yang sudah dilaksanakan tetap diperhitungkan sebagai setoran biasa sesuai tujuan (Pokok/Bung)*.

Setelah berkonsultasi dengan Gurunda Ustadz Shiddiq Al Jawi dan meminta pandangan rekan saya Kang Ganjar, disimpulkan bahwa meskipun BDO sudah dihapuskan seluruhnya, kedua klausul tersebut adalah batil dan berpotensi riba.

Oleh karena itu, klausul tersebut harus dinegosiasikan kembali dengan Si-Abang agar dihapus dari surat Putusan Penyelesaian Kredit.

Pada tanggal 26 November 2019 saya minta bertemu dengan Si-Abang, untuk mendiskusikan isi draft Putusan yang mereka ajukan.

Mereka penuhi dan mengusulkan pertemuannya di rumah saya. Saat itu isteri saya sudah mewanti-wanti agar menerima saja putusan Si-Abang, kalau ternyata Si-Abang menolak untuk menghapus kedua klausul tersebut.

Alhamdulillaah ketika usulan penghapusan dua klausul tersebut saya sampaikan kepada Si-Abang, atas izin Allah ternyata Si-Abang langsung menyetujuinya. Allaahu akbar…!!!

Semoga bisa menginspirasi antum, yang masih punya urusan dengan Si-Abang… Yang saya katakan kepada Si-Abang adalah sebagai berikut:

*“Pak X dan Pak Y yang saya hormati. Saya bersyukur dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang hebat seperti bapak, karena berani mengambil putusan yang berisiko seperti ini.

Saya percaya hanya orang-orang yang punya integritas tinggilah yang sanggup untuk membuat putusan ini. Saya sangat mengapresiasi keberanian bapak-bapak, yang telah mengakomodasi keinginan dan keyakinan pribadi saya agar seluruh BDO dihapuskan dalam kewajiban utang pokok saya.*

*Pak X dan Pak Y, ketahuilah bahwa untuk menyelesaikan utang perusahaan saya ke Abang, saya hanya mengharapkan pertolongan dari Allah semata.

Oleh karena itu, agar pertolongan Allah tersebut datang kepada saya, frekwensi saya harus saya samakan dengan frekwensi pertolongan Allah.

Untuk menyamakan frekwensi saya dengan frekwensi pertolongan Allah, maka saya harus tunduk pada ketentuan Allah secara total.

Dalam draf putusan yang bapak sampaikan kepada saya, masih terdapat 2 (dua) klausul yang membuat frekwensi saya berbeda dengan frekwensi pertolongan Allah.

Jika kedua klausul tersebut bapak pertahankan, saya tidak yakin pertolongan Allah akan datang kepada kita. Oleh karena itu, dengan segala hormat saya mohon kepada Bapak agar berkenan untuk menghapus kedua klausul tersebut.

Klausul (1), meskipun di kalangan ulama masih terdapat khilafiyah, secara pribadi saya meyakini bahwa klausul tersebut adalah riba. Sedangkan klausul (2), mengandung ghoror dan berpotensi riba, sehingga keberadaan klausul tersebut adalah batil/haram.”*

Setelah Si-Abang pamit pulang, salah seorang diantara mereka selaku kepala cabang pembantu balik lagi menemui saya. Beliau meminta saya agar tidak melanjutkan proses kasasi, karena sudah ada win-win solution yang telah disepakati.

Dengan mantap saya katakan kepada beliau bahwa dengan adanya kesepakatan penyelesaian kredit ini, proses hukum yang saya lakukan sudah tidak relevan lagi karena tujuan gugatan saya sudah tercapai: “membebaskan diri dari belenggu riba”.

Oleh karena itu, saya akan secepatnya mencabut permohonan kasasi tersebut. Kami pun bersalaman kembali…..

Setiap orang memiliki pengalaman spiritual yang berbeda, dalam perjuangannya untuk mandapatkan pembebasan BDO dari Si-Abang.

Ada yang cepat, ada juga yang lama. Mungkin saya termasuk salah seorang yang prosesnya memakan waktu cukup lama, 2 (dua) tahun baru disetujui.

Tapi kita tak perlu cemas dengan cepat dan lamanya proses yang harus dilalui, untuk mendapatkan pembebasan BDO tanpa syarat. Yang penting ketika pembebasan BDO disetujui oleh Si-Abang, kita sudah memiliki kesiapan untuk menyelesaikan utang pokoknya dengan cara yang sudah kita perhitungkan.

Pembebasan BDO menjadi non executable, ketika Si-Abang meminta pelunasan seketika padahal kondisi finansial kita tidak memungkinkan untuk itu dan untuk menjual asset perlu waktu yang tidak bisa kita prediksi (bisa cepat juga bisa lama).

Di tengah ketidakpastian itulah kita harus selalu menghadirkan Allah Yang Maha Pasti dalam setiap langkah yang kita lakukan, agar kita bisa keluar dari jeratan utang dan riba ini. Samakan frekwensi kita dengan frekwensi pertolongan Allah, agar kita pantas untuk mendapatkan pertolongan-Nya.

Angkatkan kualitas amal wajib dan komitlah dengan amal sunnah tertentu, yang bisa kita lakukan secara terus-menerus tanpa henti.

Jika kita mampu, misalnya: lakukanlah secara konsisten shaum sunnah Senin Kamis dan berinfaq rutin dengan nilai tertentu setiap hari ketika shalat shubuh berjamaah. ;*** Wallaahu a’lam.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.

downloadfilmterbaru.xyz nomortogel.xyz aplikasitogel.xyz hasiltogel.xyz paitogel.xyz